By: Addiarrahman
Sulit Air. Orang-orang mengetahui nama nagari ini berdasarkan banyak alasan. Walau sedikit bermasalah dalam ukuran akademik, penetapan 28 April 1821 sebagai hari jadi Sulit Air cukup membuat nama Sulit Air terkenal, khususnya melalui corong media cetak maupun elektronik. Ia juga dikenal karena keindahan gunung merah putih; Rumah Gadang Duo Puluah Ruang; Nagari terluas di Sumatera Barat; Samba Itam jo Samba Duo Bole; Organisasi Sulit Air Sepakat yang kesohor sampai ke luar negeri: Melbourne dan Sydney; atau juga sebagai “Kota Wesel”.
Terlepas dari itu semua, barangkali sedikit mengenang Sulit Air sebagai nagari yang melahirkan tokoh-tokoh hebat. Seperti, Mahyuddin Dt. Sutan Maharadja, Mr. Mohammad Djamin gelar Soetan Maharadja Besar, Zainal Abidin Ahmad, Yoesoef Ahmad, Prof. Dr. Kahruddin Yunus, dan lainnya.
Rubrik Tokoh Sulit Air dalam edisi majalah Suara SAS ini secara khusus akan membahas tokoh-tokoh Sulit Air yang bisajadi tidak diketahui oleh banyak orang; khususnya generasi muda. Rubrik ini, insya Allah, secara berkelanjutan akan membahas tokoh-tokoh tersebut. Ini merupakan bagian dari pendidikan karakter bagi generasi muda Sulit Air. Untuk edisi ini, redaksi memilih tokoh Mahyuddin Dt. Soetan Maharadja.
Biografi Singkat
Biografi Mahyuddin Dt. Soetan Maharadja tidak sulit diketahui, karena beliau sendiri, meskipun tidak sampai selesai, sempat menulis outobiografinya yang dimuat pada beberapa soerat chabar, seperti: Soenting Melajoe, Pandji Islam, Pertja Barat, Warta Hindia, dan Regeerings Almanak. Ahli sejarah Taufik Abdullah secara khusus merekam biografi dan sepak terjang Bapak Jurnalistik Melayu ini dalam tulisannya Modernization in the Minangkabau World: West Sumatra in the Early Decades of the Twentieth Century. Tulisan ini terbit dalam buku Culture and Politics in Indonesia, Jakarta: Equinox Pub, 2007, yang diedit oleh Claire Holt.
Mahyuddin lahir pada bulan November 1860 di Sulit Air. Ayah dan Kakeknya adalah seorang penghulu sukunya. Dia memperoleh pengetahuan adat secara langsung dari ayahnya yang sangat menguasai seluk-beluk adat Minangkabau. Dia juga mewarisi sikap perlawanan terhadap kelompok Paderi. Kakek buyutnya dari pihak ayahnya telah dibunuh oleh kaum Paderi, sedangkan kakeknya sendiri adalah pemimpin kelompok anti-Paderi di Sulit Air. Pada saat Sulit Air jatuh ke tangan Belanda setelah penyerangan yang kedua, sehingga kakeknya diangkat menjadi Tuanku Laras I di Sulit Air. Pucuk pimpinan ini, kemudian dilanjutkan oleh ayah Dt. Soetan Maharadja sebagai Tuanku Laras II.
Mahyuddin Dt. Soetan Maharadja merupakan generasi pertama Minangkabau yang menerima pendidikan barat (Western-Educated). Ayahnya, Dt. Bandharo, menyekolahkan Mahyuddin pada Sekolah Radja di Boekittinggi. Pada tahun 1873, dia bersama dua orang temannya, berkesempatan menerima pendidikan di European Elementary School di Padang. Akan tetapi, setelah beberapa bulan, salah seorang di antaranya dikeluarkan karena terlibat perkelahian dengan anak Belanda. Dt. Soetan Maharadja masih diberikan kesempatan, karena mengingat ayahnya, Dt. Bandharo merupakan Tuanku Laras II di Sulit Air. Akan tetapi, pada tahun 1875, Dt. Bandharo mengundurkan diri sebagai Tuanku Laras II sebagai aksi protes terhadap kebijakan pemerintah Belanda yang membuat aturan yang mengatur kepemilikan pemerintah terhadap tanah tak bertuan. Dt. Soetan Maharadja juga memperoleh pendidikan hukum bersama temannya dari seorang pengacara Belanda. Agaknya, bidang hukum inilah yang banya diminati oleh sarjana Sulit Air lainnya, seperti: Mr. Moehammad Djamin gelar Soetan Maharadja Besar, Nasrullah Dt. Polong Kayo, dan masih banyak yang lainnya.
Meskipun berpendidikan barat, Mahyuddin Dt. Sutan Maharadja merasa bahwa keberhasilannya tidak terlepas dari komitmennya dalam melaksanakan nila-nilai adat dalam kehidupannya sehari-hari. Di sisi lain, selain bermazhab Syafi’i, dia juga aktif mengikuti kelompok tarekat, seperti: Samaniah, Syatariah, dan tarekat Mim. Ajaran tarekat ini dia peroleh pada saat bekerja sebagai jaksa penuntut umum di daerah Indrapura.
Bapak Jurnalisme Melayu
Setelah gagal mendapatkan promosi jabatan, Mahyuddin Dt. Soetan Maharadja bekerja secara editor Pelita Ketjil yang merupakan koran Melayu tertua yang terbit pertama kali pada tahun 1880. Pada awalnya, media cetak ini hanya berisi berita-berita komersil dan iklan. Akan tetapi, sejak Dt. Soetan Maharadja bergabung, 1891, Pelita Ketjil menjadi forum terbatas pertama bagi para sarjana, guru sekolah, dan karyawan pemerintah. Aktifitasnya sebagai editor ini, tidak hanya menjadikan dia mendapatkan julukan “The Father of Malay Journalism” dan juga menjadi tokoh utama dalam membela adat. Kegigihan dia membela adat juga ditunjukkan dengan membentuk Kongsi Adat sebagai kelompok yang mempertahankan “Alam Minangkabau” dari gerakan melampui batas yang dilakukan oleh “Kongsi Padri”.
Setelah keluar sebagai editor Pelita Ketjil, Dt. Soetan Maharadja bergabung ke surat kabar Warta Berita (1895), Tjaja Soematera (1904). Pada tahun 1910, dia pertama kali menerbitkan korannya sendiri, Oetoesan Melajoe. Adapun tujuan Oetoesan Melajoe adalah “mencapai kemajuan dalam keterampilan, manufaktur, pengetahuan, pertanian dan perniagaan”. Kemudian, bersama putrinya Zubaidah Ratna Djuita dan Rohana Kudus, dia menerbitkan surat kabar perempuan pertama, Soenting Melajoe, yang terbit pertama kali pada tahun 1912. Setahun kemudian, dia juga menerbitkan koran Soeloeh Melajoe, yang menjadi penyimbang wacana keislaman yang disebarkan oleh majalah al-Munir dan al-Akhbar. Keduanya oleh Kaum Tua dinilai menyebarkan paham wahabi yang bersebarangan dengan mazhab syafi’iyyah yang dipegang oleh masyarakat Minangkabau.
Atas jasa beliau mempertahankan adat alam Minangkabu dan “mambangkik batang tarandam”, Mahyuddin Dt. Soetan Maharadja juga dikenal sebagai Dt. Bangkik. Terlepas dari itu, kita patut berbangga atas warisan perjuangan yang telah dia tinggalkan. Darah Jurnalistik dari “Dt. Bangkik” ini, agaknya mempengaruhi perkembangan organisasi SAS yang berdasarkan catatan sejarah, juga telah menghasilkan banyak majalah. Seperti, Suara SAS, Tunas Muda, Tjanang Gunuang Papan, Folisa, Majalah Puteri, dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya kita mengikuti jejak Dt. Soetan Maharadja dalam menguasai media informasi. [A. Malin Batuah]