Sulit Air DARURAT STUNTING

Sulit Air Darurat Stunting

Dr. Addiarrahman


Pada bulan Juli 2024 lalu, saya melakukan satu projek penelitian tentang “Reorientasi Kebijakan Pengentasan Stunting di Sumatera Barat Berbasis Maqasid Framework” yang berkolaborasi dengan dosen UIN Imam Bonjol Padang.


Stunting hanyalah salah satu bentuk kekurangan gizi, selain wasting (berat badan anak menurun, sangat kurang, atau bahkan berada di bawah rentang normal), over/under weight (berat badan lebih/kurang), atau double burden multnurtition (BDM atau beban ganda malnutrisi adalah bayi yang mengalami kekurangan gizi dan kelebihan gizi secara bersamaan)

Isu stunting termasuk masalah serius yang menjadi perhatian global. Bahkan, 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) adalah beririsan dengan tujuan pengentasan stunting. Itu artinya, masalah stunting bukan sekedar soal “tinggi badan anak yang lebih pendek dari anak sesusianya”. Lebih dari itu, stunting terkait erat dengan bagaimana masa depan suatu keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Anak-anak stunting memulai hidup mereka dengan kondisi yang kurang menguntungkan dengan konsekuensi yang terus berlanjut hingga dewasa: mereka menghadapi kesulitan belajar di sekolah, berpenghasilan lebih rendah saat dewasa, dan menghadapi hambatan untuk berpartisipasi dalam masyarakat.

Seriusnya masalah stunting, pemerintah Rapublik Indonesia menetapkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang bersifat multi sektor-multi pihak. Sebab, data menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan jumlah anak stunting terbanyak di Asia Tenggara.

Stunting di Sulit Air

Ada dua jenis data untuk menjelaskan kondisi stunting, yaitu: sebaran (prevalensi) stunting dan Keluarga Berisiko Stunting. Berdasarkan data SSGI/SKI 2023, prevalensi stunting di Sumatera Barat mencapai 23.6%, dan terdapat 287.208 keluarga berisiko stunting.

Yang sangat mengagetkan sekaligus membuat saya terpukul, saat menerima data prevalensi stunting dan jumlah keluarga berisiko stunting di Kabupaten Solok dari Dinas Kesehatan dan DP3AP2KB, pencarian saya langsung tertuju pada kondisi Sulit Air. Data menunjukkan bahwa 327 dari 813 keluarga di Sulit Air dinyatakan masuk Keluarga Berisiko Stunting.

Kecamatan X Kota Diatas memiliki prevalensi stunting tertinggi di Kabupaten Solok, yaitu 20,06%. Artinya, nagari-nagari yang berada di kecamatan ini, masih berada di atas target yang diharapkan. Namun, prevalensi ini jauh menurun bila dibandingkan dengan e-PPGBM pengukuran bulan Februari 2024. Prevalensi stunting di Kecamatan X Koto Diatas pada periode ini mencapai 40,1%. Artinya, terjadi penurunan sebesar 20% pada saat pengukurun Juli 2024. Nagari Siberambang mencapai 29,7%, diikuti Nagari Katialo 24,5%, Nagari Sulit Air 22,2%. Lebih lengkap, berikut prevalensi stunting per nagari di Kecamatan X Koto Diatas.

Tabel Prevalensi Stunting Pernagari di Kecamatan X Koto Diatas

NAGARI

Balita ditimbang dan diukur

Stunting

Prevalensi (%)

NAGARI KUNCIA

32

8

11.8

NAGARI SIBERAMBANG

41

35

29.7

NAGARI KATIALO

12

13

24.5

NAGARI TANJUANG BALIK

65

25

16.0

NAGARI PANINJAUAN

39

16

18.4

NAGARI LABUAH PANJANG

12

8

21.1

NAGARI SULIK AIA

134

77

22.2

NAGARI PASILIHAN

15

8

19.0

NAGARI BUKIK KANDUANG

35

10

11.4

JUMLAH

385

200

40.1

Sumber: Dinkes, Rekap Status Gizi Pernagari Umu 0-59 Bulan Penimbangan bulan Februari 2024, diperoleh tanggal 24 Juli 2024

 

Pedulikah Kita?

Sementara data membuktikan bahwa nagari yang kita banggakan menjadi tempat bersemainya bayi stunting, fokus kita masih belum terpatri pada isu-isu substansi seperti ini. Nyaris dalam tiga tahun terakhir, kita menghabiskan waktu pada pertarungan “goti” yang tak berkesudahan.

Saya berkeyakinan bahwa kita semua peduli; bahkan sangat sangat peduli dengan kondisi Sulit Air. Saking pedulinya, terkadang berpikir dan bersikap di luar batas kewajaran. Tapi, pertanyaannya kemudian, bisakah kita meletakkan kepedulian kita terhadap isu-isu substantif seperti ini? Atau masalah lain, seperti tingginya peredaran narkoba, judi online, atau yang lebih miris, saya mendapatkan informasi bahwa ada praktik “OPEN BO” yang dilakukan remaja Perempuan kita.

Jika untuk membangun masjid, mushala, atau yang lainnya kita bisa, mengapa kita tidak salurkan bantuan kita untuk pengentasan stunting? Entah dengan pengadaan sanitasi air, jamban sehat, atau pemberian makan sehat dan lainnya.

Entah Adagium Anak Dipangku, Kamanakan Dibimbing kita sepakati untuk ditimbun di lingat lahat masa lalu saja.