HBH SAS Se-Dunia; Tentang Identitas dan Kebanggaan

Ini bukan kebanggaan semu sebagai orang Sulit Air. Alamnya "tidak subur" tapi mengandung sumber material yang "menggiurkan" kelompok "Paderi" dan Kolonial Belanda. Tapi, kandungan emas, batu bara, batu hijau, granit dan lainnya yang telah diteliti itu, ternyata belum bisa dioleh saat Belanda berhasil memukul paderi dari Sulit Air. Hingga saat ini, upaya mengolahnya selalu gagal.

Sebagai tanah rantau Minangkabau, Sulit Air adalah Cumeti Koto Piliang. Namun, ia juga "Pisang Sikalek-kalek hutan, pisang batu nan bagatah, Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah". Artinya, ia adalah sintesis antara "Manitiak Dari Ateh, Mambasuik dari Bawah" dan "Tagak Samo Tinggi, Duduak Samo Randah".

Barangkali, keadaan itu membuat Sulit Air mampu melahirkan intelektuil yang harus diperhitungkan. Bapak Pers Melayu, Mahyuddin Dt. Sutan Maharadja adalah seorang Sulit Air tulen yang menjadi pembela Adat minangkabau dari serangan kelompok "wahabi". Putrinya, Zubaidah Ratna Juwita, mendirikan sekolah jahit perempuan dan menerbitkan majalah Soenting Melajoe bersama Rohana Kudus. Sedikit maju ke depan, ada Mr. Mohammad Djamin sarjana hukum lulusan Belanda menerbitkan Harian Persamaan, yang kemudian menjadi Gubernur Jawa Barat kedua.

Siapa yang tidak mengenal Zainal Abidin Ahmad. Seorang Buya, Jurnalis, Intelektual, sekaligus politisi. Dari tangannya, tidak kurang 40 buku telah diterbitkan. Belum termasuk artikel-artikel yang dia tulis sejak mendirikan Pandji Islam pada tahun 1934. Dia tercatat sebagai sarjana tanpa gelar akademik formal yang menulis buku "Dasar-Dasar Ekonomi Islam" pada tahun 1950; saat di mana orang "ragu" menggandengkan kata "Islam" dalam suatu disiplin Ilmu.

Tentu, sedikit (jika enggan mengatakan tidak ada) yang mengenal Kahrudin Yunus. Sejak akhir tahun 1937, merantau ke Mesir kemudian 1949 dilanjutkan ke Amerika. Setelah 17 tahun, kembali dengan meraih gelar Doktor dari The American University. Menjadi penulis pertama tentang Ekonomi Islam dengan menggunakan pendekatan "Ekonomi Politik".

Yusuf Ahmad, sahabat karib Zainal Abidin Ahmad, ayah mertua Dr. Amin Nurdin (Mantan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah). Sejak 1930-an, mengelola majalah al-Munawwarah (terbit di Sulit Air), Pandji Islam, Pedoman Masyarakat, Pandji Masjarakat, dan lainnya. Kalaulah bukan karena usaha dia mengejar Bung Hatta ke bandara (saat mau terbang ke Belanda), barangkali kita tidak dapat membaca "Demokrasi Kita" yang terbit di majalah Pandji Masjarakat di bawah pimpinan Buya Hamka, yang berujung penjara bagi Hamka. Cerita ini saya dapatkan dari anak Yusuf Ahmad, saat berkunjung ke rumah Pak Dr.Amin Nurdin.

Saat ini, sederet nama bisa kita sebutkan di berbagai bidang. Belum lama ini, media sosial diviralkan dengan berita "Orang Sulit Air membeli Gereja dan dijadikan Masjid". Namun, di tengah Pandemi Covid 19 ini, mendengar "Halal bi Halal Virtual SAS Se-Dunia", saya semakin menyadari bahwa diaspora Sulit Air nyaris ada di seluruh pelosok dunia. Sebutlah misalnya: Amerika, Belanda, Prancis, Melbourne, Sydney, Arab, Mesir, dan lainnya. Digitalisasi kehidupan sosial mempertemukan saya dengan saudara-saudara yang nun jauh di sana.

Saya bergumam, "Saya Bangga menjadi orang Minangakabu; Menjadi orang Sulit Air. Menjadi SAS (Sulit Air Sepakat)". [Addiarrahman]