Pada dekade pertama, sejak terbentuknya DPP SAS pada tgl 5 Juli 1970 di Ciloto, yang kemudian berubah nama menjadi Musyawarah Keluarga SAS, lalu Mubes Besar (Mubes) SAS, memang selalu ramai dibicarakan masyarakat Sulit Air di mana-mana seperti sekarang ini. Yang selalu menjadi bahan pembicaraan: siapa yang bakal tampil menjadi Ketua Umum (Ketum) DPP SAS? Sepanjang yang dapat saya ketahui, secara ringkas dapat disampaikan sebagai berikut:
DPP SAS KURUN WAKTU 1970 s/d 1984
Pada Konperensi SAS I di Ciloto tgl 3 s/d Juli 1970, yang hanya dihadiri oleh utusan SAS dari tujuh kota, boleh dikatakan Ketum DPP SAS itu ditetapkan hanya berdasarkan musyawarah dan mufakat “bulek ayie dek pambuluoh, bulek kato dek mupokek”, menunjuk Syamsulbahri Nur sebagai Ketum DPP SAS. Namun pada periode-periode selanjutnya, amatlah sulit membujuk tokoh Sulit Air yang dianggap pantas untuk bersedia dicalonkan sebagai Ketum DPP SAS.
Tokoh-tokoh masyarakat Sulit Air yang dianggap tepat itu, selain tidak bersedia, juga tidak mau menghadiri konperensi. Trauma perpecahan tokoh-tokoh Sulit Air sekitar tahun 1963 – 1966 dengan terjadinya pertentangan tajam antara Panitia Kerja PSA (PK-PSA) dengan YAPSA (Yayasan Pembangunan Sulit Air), yang seolah-olah membagi tokoh2 Sulit Air dalam kedua kubu itu, rupanya masih membekas.
Pada Konperensi SAS II tahun 1972 di Palembang, tokoh muda Rozali Usman hadir sebagai Ketua Delegasi SAS Bandung. Rozali Usman adalah mantan Ketum DPP IPPSA yang kegiatan bisnisnya sedang naik daun. Waktu itu boleh dikatakan tidak ada pemilihan Ketum DPP SAS. Tokoh kharismatik Kaharuddin Saleh Bujang Sati berhasil membujuk Rozali Usman untuk bersedia menjadi Ketum DPP SAS. Rozali Usman bersedia asal didampingi KS Bujang Sati dan dua-tiga hartawan Sulit Air lainnya. Karena saya sekretarisnya, saya tahu Rozali Usman memang sudah mempersiapkan diri jadi Ketum DPP SAS, maka hadir di Palembang. Waktu acara pemilihan Ketum DPP SAS yang baru, KS Bujang Sati berdiri dan bicara panjang lebar di sidang pleno. Setelah bicara panjang lebar, dia mengusulkan agar Rozali Usman yang dipilih sebagai Ketum DPP SAS yang baru.
Bagai pemilihan “khulafa-ur rasyidin”, dia lantas bilang: “Cabang-cabang SAS yang setuju Rozali Usman menjadi Ketua Umum DPP SAS harap berdiri!”. Bujang Sati seorang orator kharismatik dalam masyarakat Sulit Air, pandai benar dia mempengaruhi dan mengajak bercanda masyarakat Sulit Air. Ada yang memberinya julukan “ketua parlemen pangka titi”. Mendengar “perintah” Bujang Sati yang demikian itu, seluruh delegasi SAS berdiri, bahkan semua yang hadir ikut berdiri, sebagai tanda setuju. Kemudian terdengar tepuk-tangan dan sorak-sorai yang panjang dan meriah, menyetujui Rozali Usman dari Bandung sebagai Ketum DPP SAS.
Dan Rozali Usman, yang seorang orator muda, mantan Ketum DPP IPPSA, berbicara panjang lebar dan memikat pula. Langsung ditunjuknya 3 orang tokoh Sulit Air sebagai ketua pendampingnya, yakni KS Bujang Sati, Ny. Rosma Rais dan Djamaluddin Tambam. Dan saya yang waktu itu jadi karyawan CV “Remaja Karya” dan menjadi Pemred “Suara SAS”, yang dicetak pada perusahaan itu, ditunjuknya sebagai sekretaris. Saya jadi kaget. Hanya lima nama itu saja yang diumumkan.
Pada hal Ibu Rosma Rais (petinggi PK-PSA) dan Pak Djamuluddin Tambam (petinggi YAPSA) tak hadir dalam konperensi. Namun dengan kepiawaian Rozali Usman, sehabis konperensi dia berhasil membujuk tokoh2 yang tadinya bertentangan keras tsb (KS Bujang Sati juga tokoh YAPSA) untuk bergabung di dalam DPP SAS. Bahkan kemudian dipopulerkan sebutan DPP SAS 4 = 1 dan 1 = 4, untuk menunjukkan kekompakan mereka. Kemudian ditambah dengan Ali Hanafiah Yunus (menantu KS Bujang Sati) sebagai tambahan sekretaris dan Anwar Am (Kepala Perwakilan “Remaja Karya”, Jakarta) sebagai Bendahara.
Hanya 7 orang itu saja Pengurus DPP SAS, ditambah dengan 5 penasehat (Syamsyulbahri Nur, HM Joesoef Ahmad, Jurnalis Uddin, HZA Ahmad dan Ramli Paduko Sutan). Ditambah dengan 5 anggota DPP SAS yang semuanya berkedudukan sebagai Korwil, yakni Anwar Bay (Pekan Baru), Fakhruddin Panuh (Padang), Dawanis Sirin (Palembang), Jamil Arief Dt Bagindo Marajo (Teluk Betung) dan Zainal Abidin Tipo (Yogyakarta).
Periode DPP SAS yang kedua ini populer sebagai DPP “Kopa Besi”, karena empat ketuanya adalah orang-orang kaya Sulit Air. Dan dipopulerkan pula dengan sebutan: Ketum “Raja Percetakan”, ketua I “Raja Kapal”, ketua II “Raja Bangunan” dan ketua III “Raja Farmasi”. Ke- 17 awak DPP SAS tsb, dengan taqdir Allah, hanya saya seorang yang masih diberi usia panjang oleh Allah (alhamdulillah), selebihnya sudah berpulang ke Rakhmatullah (semoga Allah memberikan tempat yang indah dan bahagia kepada mereka di Alam Barzakh).
Namun musim semi DPP SAS itu tidak berlangsung lama. Akibat perbedaan pendapat dalam pembangunan Mesjid Raya Sulit Air, yang berakar pada pernikahan Rozali – Rosma, terjadi perpecahan pada DPP SAS Rozali Usman II (1973 – 1975), hingga Rozali Usman non aktif sebagai Ketum DPP SAS. Kepengurusan DPP SAS diteruskan oleh Ketua I Syamsulbahri Nur dan Ketua II KS Bujang Sati dengan sekjen Bahrul Bahrony, menggantikan saya. Saya beralih menjadi Sekretaris Yayasan Keluarga RORA (Rozali Usman – Rais St. Alamsyah) yang kemudian mensponsori pembangunan Mesjid Raya Sulit Air pada tahun 1975. Akibat perpecahan internal DPP SAS ini, Musyawarah Keluarga SAS (Mukelsas) IV tahun 1975 jadi sepi, sebenarnya tak mencapai quorum yang ditentukan AD-ART SAS. Dengan berat hati Fakhruddin Panuh dari Padang, akhirnya dengan kebesaran jiwa bersedia menerima penunjukan dirinya sebagai Ketum DPP SAS 1975 – 1977.
Keadaan menjadi semakin parah pada Musyawarah SAS V tahun 1977, tak seorangpun yang bersedia menjadi Ketum DPP SAS. Yang terpilih hanya formateurs (HM Joesoef Ahmad, Mukhlis Listo, Nasrullah Salim Dt. Polong Kayo, Rizal St Dewanis dan Nabasri Na-amin) dan kemudian di Jakarta membujuk Amir Shambazy agar bersedia ditetapkan sebagai Ketum. Amir Shambazy (mantan Ketua I YAPSA) yang tidak hadir dalam Musyawarah SAS V tsb , pun dengan berat hati, untuk mencegah terjadinya chaos dan kevakuman DPP SAS, akhirnya menerima penunjukan tsb. Sedemikian rendahnya “rate” Ketum DPP SAS pada masa itu, tokoh-tokoh Sulit Air pada menghindar untuk mendudukinya. Dan itu pun hanya bertahan satu tahun, Ketum DPP SAS pada bulan November 1978 beralih kepada ketua I Rusdy Agus, sampai terselenggaranya Musyawarah SAS VI tahun 1979.
Keluarga Alumni IPPSA (Ka-IPPSA) yang terbentuk pada tgl 5 Januari 1979 atas permintaan DPP SAS bersedia ditunjuk sebagai Panitia Musyawarah SAS VI tsb. Bahkan dalam Musyawarah SAS VI, Ketua Ka-IPPSA Bidang Kemasyakatan Kol. TNI-AU Ir. Syahruddin semula bersedia menjadi Ketum DPP SAS, tapi atas pertimbangan keluarga, kemudian mengundurkan diri, digantikan oleh rekannya Mayor TNI-AD Armon Syam, yang terpilih sebagai Ketum DPP SAS 1979 – 1981. Menghadapi pemilihan DPP SAS periode selanjutnya, kepengurusan DPP SAS Armon Syam dkk merasa mampu meneruskan kepemipinan SAS selanjutnya, tapi Ketum-nya perlu dipercayakan kepada tokoh yang secara material lebih kuat dan untuk itu diharapkan Rozali Usman bersedia kembali ditunjuk sebagai Ketum DPP SAS untuk ketiga kalinya dan akhirnya kembali dengan berat hati menerimanya.
Akhirnya pada Musyawarah SAS VII, Rozali Usman ditetapkan lagi menjadi Ketum DPP SAS, masa periode kepengurusan DPP SAS berubah menjadi tiga tahun, periode 1981 – 1984. Armon Syam, rela digeser dari Ketum menjadi Ketua I. Ketua I, II, dan III adalah Mayor TNI-AD Armon Syam (Mabes ABRI), Ketua II Drs. Asyaat Esyam (Departemen Pendidikan & Kebudayaan), dan Ketua III Ir. Nasrul Muluk (Ditjen Perla, kemudian Pemprov DKI Jaya), sekjen Rijal Mandah Ali. Karena ketiga ketua ini adalah pegawai negeri, maka DPP SAS ini terkernal dengan julukan DPP SAS “Pelat Merah” dan para isteri Pengurus DPP SAS, membentuk ikatan pula, semacam “Dharma Wanita”-nya PNS.
DPP SAS KURUN WAKTU TAHUN 1984 s/d 2010
Jadi sampai dengan tahun 1981 itu, belum ada tokoh SulitAir, jangankan akan mencalonkan diri sebagai Ketum DPP SAS, seperti sekarang ini, dicalonkan saja banyak yang tidak mau. Keadaan berubah di tahun 1984 . Mantan Ketum DPP IPPSA Nur Aksar mengirimkan surat edaran ke cabang-cabang SAS dan siapa yang dipandangnya tepat dan dimuat di media Sulit Air, menyatakan bahwa dirinya siap ditunjuk menjadi Ketum DPP SAS.
Tidak sekedar itu, ditemuinya semua delegasi SAS di Sulit Air menjelang Musyawarah SAS VIII berlangsung, menyampaikan maksud hatinya tsb. Dalam sidang pleno pemilihan Ketum DPP SAS ,Nur Aksar berhadapan dengan Rainal Rais, Ketua Ka-IPPSA dan tokoh HIPMI Jaya. Dalam pemilihan diadakan pemungutan suara (voting), namun yang keluar sebagai pemenang adalah Nur Aksar. Dalam Musyawarah SAS IX itu, masa jabatan DPP SAS dirubah lagi menjadi dua tahun.
Dan dalam pemilihan Musyawarah SAS IX tahun 1986, terpilihlah Rainal Rais sebagai Ketum DPP SAS. Sebutan Musyawarah berubah menjadi Musyawarah Besar (Mubes) SAS. Rainal Rais kemudian terus-menerus menjadi Ketum DPP SAS sampai 6 periode, dari tahun 1986 s/d tahun 1998. Selain dia dipercaya untuk meneruskan masa jabatannya dan dia bersedia, tak ada tokoh lain yang kuat yang bersedia ditunjuk menjadi Ketum DPP SAS sebagai saingannya. Dengan kata lain, tokoh-tokoh Sulit Air yang pantas, masih risih dan berat untuk dicalonkan menjadi Ketum DPP SAS.
Barulah pada tahun 1998, pada Mubes SAS XIV Rainal Rais tak bersedia lagi menjadi Ketum DPP SAS. Dan secara tidak terduga muncul Ketua SAS Bandung, tokoh muda dan pengusaha percetakan Zulherfin Zubir, yang memang sengaja diorbitkan SAS Bandung untuk menjadi Ketum DPP SAS. Sejarah kembali berulang, sama halnya dengan Rainal Rais, Zulherfin Zubir berhasil menduduki tahtah “Ketum DPP SAS” juga dalam 6 periode, dari tahun 1998 s/d 2010.
Saya tak banyak lagi menghadiri Mubes, tapi saya kira sebabnya sama dengan Rainal Rais, belum ada tokoh Sulit Air yang pantas, yang berani naik panggung mencalonkan diri sebagai Ketum DPP SAS. Mungkin menjadi cemas dengan adanya pemeo yang sering terdengar pada masa itu bahwa menjadi Ketum DPP SAS itu harus berani mandi kudo, artinya benar-benar terjun ke batang air, memandikan kuda kesayangan, menggosok-gosok dan menyabuninya.
Tidak seperti memandikan beruk, cukup melemparkannya ke dalam lubuk dengan talinya, disuruh mandi sendiri, untuk kemudian ditarik kembali, selesai! Menjadi Ketum DPP SAS “ harus berani bertabur urai, nan dikakok karojo urang, nan dimakan nasi awak, namun upek dapek juo, pujian jauoh sakali”. Mendengar ini, mungkin tokoh Sulit Air yang tadinya berminat, jadi basisuruik kembali, tidak mau mencalonkan diri.
Sebenarnya ungkapan lama orang tua-tua itu tidak berbunyi demikian, tapi sudah diplesetkan (dipalituok-on) saketek. Yang benar adalah: “Nan dikakok karajo urang, nan dimakan nasi awak. Upek dan puji indak bacorai”. Artinya kalau kita menjadi pemimpin, selalu akan ada yang memuji dan mengkritik kita, tergantung kepada kinerja kepemimpinan kita. Kalau kita memimpin dengan baik dan santun, insya-Allah pujianlah sebenarnya yang akan banyak kita terima.
Lagi pula kritik, kecaman dan hinaan sekalipun, perlu bagi kita sebagai introspeksi dan nilai pahalanya tinggi sekali, asalkan kita sabar menerimanya sebagai ujian iman. Orang tua-tua pun ada mengingatkan “indak puji nan manyonang, indak cacek nan mambunuoh”. Sungguh indah ajaran Islam berpadu dengan ajaran adat-istiadat Minangkabau. (Bersambung).
Sumber : Drs.H. Hamdullah Salim (A.H)